BerandaFinansialMengenal Saham Gorengan dan 5 Ciri - Cirinya, Jangan Tertipu!

Mengenal Saham Gorengan dan 5 Ciri – Cirinya, Jangan Tertipu!

Selama berinvestasi di bursa saham, sudah familiar dengan istilah saham gorengan? Jangan sampai tertipu dan ikut membeli emiten yang lagi ‘digoreng’, cek ciri – cirinya di sini. 

Saham gorengan merujuk pada emiten saham dengan fundamental buruk. Harga saham umumnya melambung tinggi karena tengah dimanipulasi oleh oknum tertentu.

Setelah mendapatkan keuntungan, oknum akan menjual dan membuat harga kembali bahkan di bawah angka normal. 

Saham gorengan adalah musuh bagi trader maupun investor pemula. Sebab, tak sedikit yang terjebak membeli di harga tinggi agar bisa mendapat keuntungan, tetapi justru mengalami kerugian.

Apa Saja Ciri-ciri Saham Gorengan ?

Memasuki bursa saham sangat menantang pemula yang ingin berinvestasi. Salah satunya dalam memilih saham, perlu banyak pertimbangan.

Saham yang termasuk gorengan aman dibeli oleh trader dan investor berpengalaman. Lantaran sudah memiliki sepak terjang dan tahu risiko serta karakteristik saham. 

Sementara untuk pemula, saham gorengan tidak disarankan karena peluang kerugian makin tinggi. Nah, bagaimana cara membedakan mana saham gorengan dan bukan? Ini 5 cirinya.

1. Memiliki Kapitalisasi Pasar Rendah

Market cap merupakan satu diantara banyak cara, menentukan sebuah perusahaan memiliki fundamental bagus atau tidak.

Melansir dari Kompas, market cap adalah cara untuk melihat nilai perusahaan. 

Saham dengan kapitalisasi pasar rendah atau di bawah 1 triliun mudah dimanipulasi oleh oknum tertentu.

Meskipun demikian, tidak semua emiten saham di lapisan kedua atau tiga dapat disebut gorengan. Asumsi saham sedang digoreng, perlu dibuktikan melalui jalur hukum. 

2. Masuk Daftar UMA BEI

Bursa Efek Indonesia turut melindungi investor dan trader, dari aksi manipulasi harga. Apabila saham di sebuah perusahaan, mengalami kenaikan harga secara tidak wajar maka akan ditindak tegas. Seperti masuk ke daftar UMA alias unusual market activity. 

Selain UMA, BEI juga menerapkan ARA atau auto reject atas dan ARB alias auto reject bawah.

Dua istilah itu merupakan batas maksimum kenaikan dan penurunan harga untuk satu hari perdangangan. 

3. Perhatikan Volatilitas Harga

Hampir sebagian saham pernah mengalami volatilitas harga. Namun, pada saham dengan fundamental buruk, selisih perubahan harga cukup tinggi.

Misalnya di satu hari, saham berada di angka Rp3000 lalu naik ke Rp6000, maka bisa saja esok hari harga ilangsung turun menjadi Rp2000-an. 

4. Pergerakan Volume Pembelian Tak Stabil

Setiap hari volume saham selalu bergerak naik turun sesuai dengan jumlah peminat. Jika suatu emiten saham mengalami lonjakan volume pembelian, maka perlu diperhatikan saksama. Apakah terjadi karena transaksi aktif atau semu.  

5. Laporan Keuangan Kurang Jelas

Contoh saham gorengan adalah emiten atau perusahaan yang tidak memiliki laporan keuangan jelas. Sebagaimana yang diketahui, bahwa laporan keuangan merupakan pegangan untuk investor melakukan analisis.

Tanpa adanya laporan, maka tidak dapat diketahui apakah harga saham memang berada di batas wajar atau sedang digoreng. 

6. Jumlah Offer Menurun

Apabila permintaan tinggi dan penawaran turun, maka harga barang menjadi naik. Itu adalah hukum dagang yang berlaku juga di saham.

Oknum yang memanipulasi harga saham, cenderung menunggu agar harga makin naik untuk menarik trader dan investor pemula.

Membeli Saham Gorengan, Rugi Terus?

Meskipun memiliki fundamental kurang kuat hingga buruk, Anda bisa mendapatkan cuan di saham gorengan.

Salah satu triknya tentukan keuntungan yang ingin dicapai di awal. Kemudian rajin mengawasi pergerakan harga. Jika sudah mencapai target, awal maka segera jual. 

Selain itu, harus berani rugi alias cut loss. Jika sudah harga makin merosot, pertimbangkan untuk menjual daripada terus di hold

Artikel Terkait

Tinggalkan balasan

Berikan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Paling Populer