BerandaCiri-ciri Gaya Hidup Konsumtif, Penyebab dan Cara Menghindarinya

Ciri-ciri Gaya Hidup Konsumtif, Penyebab dan Cara Menghindarinya

Ciri-Ciri Gaya Hidup Konsumtif, Penyebab dan Cara Menghindarinya– Zaman sekarang ini kebanyakan orang menganggap materi merupakan suatu hal yang bisa memberikan kepuasan diri. Tak sedikit dari mereka menggunakan gaya hidup konsumtif dalam kesehariannya.

Gaya Hidup Konsumtif
Gaya Hidup Konsumtif

Secara umum Gaya Hidup Konsumtif adalah perilaku individu yang bertujuan mengonsumsi atau membeli barang atau jasa secara irasional, berlebihan, secara ekonomis menimbulkan pemborosan, mengutamakan kesenangan daripada kebutuhan dan secara psikologis menimbulkan kecemasan dan ketidakamanan.

Salah satu alasan generasi milenial jarang menabung, bahkan kesulitan membeli rumah, adalah karena memiliki gaya hidup yang konsumtif. Jika dibiarkan, kebiasaan ini tidak sehat untuk keuangan kita dan berdampak buruk bagi masa depan kita, lho.

Baca juga: Gaya Hidup yang Mengancam Keamanan Finansial Generasi Milenial

Gaya hidup konsumtif inilah yang menyebabkan keuangan kita berantakan. Sayangnya, terkadang seseorang tidak sadar bahwa dirinya sedang menjalani kehidupan yang konsumtif. Agar tidak terjebak dengan gaya hidup seperti ini, kenali ciri-ciri orang dengan gaya hidup konsumtif.

Apa Saja Ciri-ciri Gaya Hidup Konsumtif Itu ?

Berikut Merupakan Ciri-ciri Gaya Hidup Konsumtif yang perlu anda ketahui :

Selalu Mengikuti Tren

Memaksakan diri secara terus menerus untuk mengikuti trend merupakan salah satu ciri seseorang yang terjebak dalam gaya hidup konsumtif. Tren ini tidak hanya mengacu pada fashion, ya. Tren gadget, tren dekorasi rumah, dan lain-lain juga membuat kita berperilaku konsumtif.

Gengsi yang Tinggi

Membeli barang hanya dengan alasan mengikuti gengsi adalah pertanda bahwa kita sedang dalam gaya hidup konsumtif. Gengsi sering menjadi hal utama bagi seseorang untuk bersikap konsumtif. Dari segi finansial, Mereka merasa ingin terlihat mampu dimata orang lain.

Hidup tidak sesuai dengan Isi Dompet

Ciri berikutnya yaitu hidup tidak sesuai dengan isi dompet. Hidup bermewah-mewahan tanpa melihat resiko keuangan selanjutnya. Ciri khas ini tidak akan terlewatkan jika kita melihat masyarakat yang memiliki gaya hidup konsumtif.

Karena ini salah satu kebiasaan yang biasa kita temui. Ya, kebiasaan seseorang yang konsumtif bisa jadi disebabkan oleh keinginan untuk hidup lebih mewah dengan banyak barang dan fasilitas. Jika ini sudah terjadi, segera perbaiki keuangan kita.

Beli produk hanya untuk status

Tidak jarang individu berpikir bahwa barang yang mereka gunakan akan menunjukkan status sosial mereka di masyarakat. Mereka merasa harus menggunakan sesuatu dengan merek terkenal yang menghabiskan banyak uang hanya agar terlihat keren di mata orang lain terlepas dari kebutuhan mereka.

Tergiur Iklan/ Endorsement

Banyak orang yang tergiur dengan iklan atau suatu penawaran produk yang menarik. Entah itu kemasannya yang menarik, hadiah yang ditawarkan, atau karena model yang menawarkan merupakan influencer, artis, atau idola mereka.

Ingin Dipuji

Ciri yang satu ini tidak lepas dari seseorang yang memiliki gaya hidup konsumtif. Jika kita membeli barang atas dasar ingin dipuji, maka keinginan itu termasuk dalam gaya hidup konsumtif.

Apa Saja Penyebab Gaya Hidup Konsumtif ?

Berikut Beberapa penyebab gaya hidup konsumtif di masyarakat:

Pengaruh Budaya

Gaya hidup konsumtif sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat. Karena lebih banyak orang yang mengkonsumsi daripada memproduksi produk sendiri. Karena alasannya lebih praktis untuk membeli apa yang ada di pasar, padahal masih banyak peluang untuk membuat sesuatu dan menjualnya ke pasar.

Gaya hidup konsumtif juga berkaitan dengan daya juang dalam berbisnis. Mereka lebih suka bekerja untuk orang lain tanpa melihat peluang kerja. Mentalitas kita sebagai individu harus ditempa agar kita tidak hanya menjadi generasi pekerja.

Baca Juga : Gaya Hidup yang Mengancam Keamanan Finansial Generasi Milenial

Hidup Banyak Gaya

Banyak faktor yang mempengaruhi gaya hidup konsumtif seseorang, termasuk pekerjaan dan lingkungan sosial. Agar dapat diterima di lingkungan kerja atau lingkungan sosial, seseorang akan berusaha agar memiliki hidup yang sama dengan orang-orang di sekitarnya.

Misalnya seorang ibu rumah tangga yang tinggal di perumahan elit. Ia akan merasa minder untuk tampil seperti ibu-ibu arisan, syukuran tetangga, dan pengajian bahkan sesekali. Sikap konsumtif pada akhirnya berpotensi muncul secara bersama-sama.

Baca juga: Tips Gaya Hidup Sehat Bagi Remaja

Media Sosial

Kehebatan media sosial tidak hanya memengaruhi kaum muda. Kini, aktivitas media sosial yang mengasyikkan dan menyita waktu telah merambah lintas generasi. Tak bisa dipungkiri semua kalangan menggunakannya, dari anak-anak, remaja, bahkan nenek-nenek atau kakek-kakek pun ada yang memiliki akun media sosial.

Daripada hanya dijadikan sebagai media ekspresi dan unggah status, ada baiknya menggunakan media ini untuk mendapatkan penghasilan yaitu melalui Facebook Ads. Facebook Ads, sebagai fasilitas periklanan bagi pengguna Facebook, dapat membantu pengguna mengklasifikasikan target pasar bisnisnya, termasuk menentukan usia berapa yang ingin mereka targetkan.

Ingin Mendapatkan Pengakuan dari Orang Lain

Bagi manusia yang terbiasa dengan kehidupan sosial pasti akan ada suatu saat ketika kebutuhan dasarnya telah terpenuhi, mereka ingin mendapatkan pengakuan dari orang lain. Mau diapresiasi, diperhatikan keberadaannya.

Pengakuan diri akan mengarah pada sikap konsumtif ketika orang mulai mengeluarkan uang hanya untuk mendapatkan pengakuan. Disadari atau tidak, terkadang kita sendiri membeli sesuatu yang bukan karena kebutuhan. Tapi, karena ingin meningkatkan rasa percaya diri.

Anda akan mencoba mendapatkan sepatu original dari merk ternama dengan harga jutaan rupiah untuk memilikinya, karena bisa menambah rasa percaya diri. Sikap konsumtif datang bersamaan dengan keinginan kita untuk membuat penampilan kita cantik dan keren.

Dan sebagian besar ini kita dapatkan dari produk luar negeri, padahal banyak pabrik di Indonesia yang membuat barang untuk dijual di pasar internasional dengan merek dagang buatan luar negeri. Ibarat sepatu dan kaos, ternyata kami lebih bangga karena mereknya bukan karena pabrik pembuatannya berada di Indonesia.

Kemudahan Berbelanja

Dengan bermodal telepon seluler dan data internet, seseorang bisa menghabiskan gaji sebulan untuk bekerja dalam waktu kurang dari satu menit tanpa beranjak dari kursinya. Kemudahan bertransaksi yang kita rasakan saat ini berdampak pada intensitas belanja masyarakat yang semakin sering terjadi.

Dulu, untuk membeli barang incaran, kita harus berkeliling dari satu toko ke toko lain sepanjang hari. Berbeda dengan sekarang, bisa jadi hampir setiap hari jika masih ada saldo tersisa di rekening untuk menghabiskan waktu berbelanja online.

Apa Saja Cara Menghindari Gaya Hidup Konsumtif?

Ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan agar Anda dapat lebih mengontrol diri dan terhindar dari gaya hidup konsumtif:

Prioritaskan Kebutuhan

Langkah pertama untuk menjauhi gaya hidup konsumtif adalah menyusun daftar kebutuhan prioritas. Buatlah daftar prioritas kemudian ingatlah bahwa Anda harus memprioritaskan hal-hal ini lebih dari yang lain.

Jadi ketika muncul keinginan untuk membeli sesuatu di luar kebutuhan Anda, Anda bisa lebih memikirkan apakah barang tersebut masuk dalam daftar prioritas kebutuhan atau hanya sekedar keinginan.

Misalnya memisahkan uang untuk membayar sewa, kebutuhan pokok, investasi, dana darurat, hingga hiburan. Memisahkan dana seperti ini membuat batasan penggunaan uang lebih terlihat.

Kebanyakan orang yang hidup konsumtif akan merasa masih cukup untuk berbelanja hanya dengan melihat saldo di rekening. Padahal saldo tersebut belum dianggarkan untuk membayar sewa rumah dan menghitung kebutuhan pokok hingga akhir bulan. Dan akhirnya uang gajian bisa cepat habis hanya dengan hitungan hari saja.

Menunda Untuk Membeli barang

Jika keinginan membeli barang di luar kebutuhan pokok Anda, jangan langsung menuruti, ya. Tunda pada awalnya, sekitar satu hingga dua minggu. Selama itu, pikirkan baik-baik keinginan untuk membeli barang tersebut. Biasanya menunda pembelian barang merupakan cara yang efektif agar kita tidak sembarangan berbelanja.

Menabung dan Berinvestasi

Bagi masyarakat yang memiliki gaya hidup konsumtif, biasanya sangat sulit menabung atau berinvestasi karena sebagian besar pendapatannya dialokasikan untuk memenuhi gaya hidupnya.

Padahal, menabung dan berinvestasi sangat penting untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek dan jangka panjang, seperti biaya pendidikan anak, membayar DP rumah, atau mempersiapkan dana pensiun. Menabung tidak harus dalam jumlah besar, Anda bisa menyisihkan 10-30% dari penghasilan Anda per bulan untuk posting keuangan ini.

Batasi Penggunaan Kartu Kredit

Hal penting yang benar-benar harus Anda ingat adalah bahwa kartu kredit adalah alat pembayaran, bukan alat hutang. Gunakan kartu kredit dengan bijak dan manfaatkan promo atau diskon yang diberikan oleh penyedia kartu kredit agar pengeluaran Anda bisa lebih hemat.

Jangan tergoda untuk membeli barang yang tidak penting dengan kartu kredit. Perlu diingat, dalam perencanaan keuangan, proporsi ideal maksimum pos utang adalah maksimal 30% dari pendapatan setiap bulannya. Jika lebih dari itu, keadaan keuangan Anda bisa goyah dan berpotensi mengalami masalah keuangan.

Jangan sampai budget yang sudah dipatok begitu ketat sehingga berantakan karena masih menggunakan kartu kredit. Pasalnya, kartu kredit begitu mudah merayu kita agar berperilaku konsumtif di luar kantong kita.

Kemudahan bertransaksi menggunakan kartu kredit membuat kita semakin tertarik untuk berbelanja. Sebenarnya berbelanja dengan menggunakan kartu kredit boleh saja, selama kita bisa mengontrol diri dengan baik.

Jika masih kesulitan menahan diri untuk membeli barang, sebaiknya jangan menggunakan kartu kredit. Cobalah untuk beralih ke uang tunai agar lebih mudah bagi kita untuk mengontrol pengeluaran.

Kurangi Jalan – jalan

Jalan-jalan atu cuci mata saat ini bukan Cuma bisa dilakukan di mall. Sejak pandemi ini godaan untuk berbelanja online semakin besar karena tidak membutuhkan banyak tenaga saat berbelanja.

Tapi justru ini bisa memicu gaya hidup konnsumtif, niat awalnya hanya sekedar cuci mata online,tapi pada akhirnya belanja juga. Sebenarnya tidak apa-apa berbelanja online, asalkan barangnya menjadi kebutuhan bukan sekedar iseng membeli karena lucu atau diskon.

Bersedekah dan Beramal

Cara ini memang nampak religius, tapi tidak kalah efektif untuk mengubah perilaku konsumtif. Dengan memberi sedekah dan beramal berarti Anda telah berbagi dengan orang lain yang membutuhkan.

Dari segi mental, berbagi dengan orang lain akan memberikan perasaan bahagia dan nyaman sehingga Anda dapat lebih mengontrol keinginan Anda untuk menjalani kehidupan yang hedonistik.

Apalagi dalam situasi ekonomi yang tidak menentu ini, ada baiknya untuk mulai membiasakan hidup hemat dan mengelola keuangan dengan bijak. Jangan memiliki hutang konsumtif hanya untuk kebutuhan ego. Untuk keluar dari gaya hidup konsumtif memang tidak mudah, dibutuhkan komitmen dan kemauan yang kuat untuk meninggalkannya.

Artikel Terkait

Tinggalkan balasan

Berikan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Paling Populer